Minggu, 19 April 2020

Li i'la'i Kalimatillah


Setiap muslim hendaknya memalingkan seluruh maksud hidupnya dari keduniaan hanya untuk li i'la'i kalimatillah (meninggikan kalimat Allah) dan penyebaran Islam, serta membiasakan diri dalam mentaati Allah dan memelihara Islam. Kemudian berjanji dengan sungguh-sungguh akan mentaati perintah Allah dan berusaha keras mengamalkannya, tanpa mendurhakai-Nya sedikit pun.

Untuk menyempurnakan maksud ini, hendaknya kita selalu membiasakan diri dalam mengamalkannya, yaitu dengan amalan sebagai berikut :


1. Mengucapkan kalimat :
"Tiada Tuhan (Ilah) kecuali Allah, Muhammad adalah utusan Allah."
Dengan ucapan yang benar dan berusaha memahami makna kalimat tersebut dengan benar, serta memasukkannya ke dalam pikiran dan berusaha untuk mengamalkannya serta menerapkannya dalam kehidupan kita.


2. Berdisiplin dalam shalat dengan menjaga adab dan rukun-rukun shalat, dan menunaikannya dengan khusyu' dan khudhu'. Hendaknya kita sertakan kebesaran serta keagungan Allah dan kehambaan serta kelemahan kita dalam pikiran kita di setiap rukun, seakan-akan kita hadir di hadapan Allah SWT. Selain itu, hendaknya selalu memohon taufik kepada Allah agar mendapatkan mutu shalat seperti itu. Jika kita belum mengetahui cara-cara shalat yang benar, kita mesti mempelajarinya dan berusaha mengingat serta memahami semua bacaan shalat.


3. Senantiasa membaca Al-Quran dan berusaha mewujudkan cinta terhadap Al-Quran pada diri kita. Hal ini didapat dengan dua cara:


a. Menyisihkan waktu setiap hari untuk membaca Al-Quran disertai adab dan ta'zhim kepadanya serta merenungkan makna-maknanya. Jika bukan orang alim dan tidak memahami maknanya, tetaplah membacanya walaupun tidak memahami maknanya. Kita perlu meyakini bahwa kebahagiaan dan kesuksesan tersimpan di sini, dan hanya dengan membaca lafazh-Nya saja merupakan karunia yang besar, karena akan mendatangkan rahmat dan berkah. Apabila membaca saja tidak dapat, hendaknya menyisihkan waktu untuk belajar membacanya setiap hari.

b. Mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak kita dan anak-anak di tempat kita, baik laki-laki maupun perempuan. Berpikirlah untuk menghidupkan pendidikan agama serta mengutamakannya dari kerja-kerja lainnya.


4. Menyisihkan waktu untuk mengingat Allah, yaitu dengan berdzikir dan tafakkur. Dalam hal ini, hendaknya mencari bimbingan seorang ulama mursyid yang mengamalkan sunah-sunah Rasul. Jika tidak ada bimbingan guru dalam dzikir ini, hendaklah membiasakan diri membaca kalimat :
Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, Allahu akbar
Setiap pagi dan sore hari, dengan tambahan shalawat dan istighfar seratus kali yang  dibaca dengan tawajjuh dan ketenangan hati, karena di dalam hadits banyak disebutkan fadhilahnya.


5. Menganggap bahwa setiap muslim sebagai saudara. Oleh sebab itu, hendaknya saling menyayangi, berbagi rasa, menghormati, dan memuliakan sesama muslim karena keislamannya. Hindarilah hal-hal yang dapat menimbulkan penderitaan dan kesusahan ke atas saudara muslim lainnya.


Lima hal di atas hendaknya diusahakan dan diamalkan oleh setiap muslim dan dianjurkan kepada saudara se-Islam agar mereka juga menjaga dan mengamalkannya.

Caranya adalah, kita sendiri menyisihkan waktu untuk agama dan menganjurkan orang lain agar mereka juga meluangkan waktu untuk berkhidmat dalam penyebaran Islam ini. Para Nabi, sahabat, dan para shalihin dahulu telah mengalami berbagai kesusahan dalam memperjuangkan Islam. Para sahabat dan pendahulu kita telah menghabiskan umur mereka untuk agama dan jiwa mereka di jalan Allah. Oleh karena itu, jika kita tidak mengorbankan sedikit dari harta dan jiwa kita untuk agama Allah ini, niscaya kita berada dalam kerugian yang sangat besar. Inilah tanggung jawab yang telah kita tinggalkan sehingga kita sekarang berada dalam kebinasaan.

Dahulu, orang Islam memahami bahwa dengan menjadi seorang muslim berarti mesti mengorbankan harta, jiwa, kemuliaan, dan kehormatannya semata-mata demi penyebaran Islam dan Li i'la'i kalimatillah. Dan barangsiapa yang tidak memiliki pemahaman seperti ini, maka ia dianggap orang yang bodoh. Patut disayangkan bahwa kita yang dikenal sebagai orang Islam, namun ketika melihat Islam terlantar di depan mata kita, kita tidak berusaha untuk menjaga dan memeliharanya.

Ii 'ila-i Kalimatillah adalah maksud hidup setiap orang Islam, kerja asali setiap muslim, dan penyebab kejayaan dan kemajuan dunia akhirat, yang jika kita tinggalkan, kita akan menjadi terhina. Hendaknya kita usahakan agar tetap menjadi maksud hidup kita dan menjadikannya sebagai kesibukan kita yang utama dalam hidup ini, sehingga kita akan dicucuri rahmat oleh Allah dan kita akan mendapatkan kejayaan dan kemuliaan di dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nabi Yahya, Pemuda yang Dirindu Sejarah

"wa salaamun ‘alayhi yawma wulida wa yawma yamuut wa yawma yub’atsuun," Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahi...