Mukmin, adalah terminologi Qur'an yang khusus dan spesifik dinisbatkan kepada sosok pribadi manusia yang secara total, utuh, dan menyeluruh, menyerahkan hidup dan kehidupannya, jiwa dan raganya, wawasan dan pikirannya, niat dan amal perbuatannya hanya untuk Allah SWT. Puncak cita-citanya adalah mardhatillah. Itu adalah cita-cita di atas cita-cita lainnya.
Tetapi bagaimana seseorang dapat meraih mardhatillah, jika jalan hidup yang dilaluinya mengikuti jalan orang-orang yang dimurkai Allah? Memperoleh keridhaan Allah, bukanlah hal yang gampang. Tidak sembarang orang bisa mendapatkannya. Ibarat berlian, harganya mahal, lantaran barangnya langka. Jika banyak, tentulah kurang berharga.
Syeik Hasan Al-Banna benar, tatkala beliau mengatakan : "Di antara manusia itu, sedikit sekali orang yang berilmu. Lebih sedikit lagi orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Dan lebih sedikit dari itu adalah orang yang berilmu, mengamalkan ilmunya, dan berjihad di jalan Allah. Jauh lebih sedikit lagi adalah orang yang berilmu, mengamalkan ilmunya, berjihad, dan sabar. Dan lebih sedikit dari semua itu adalah orang yang berilmu, mengamalkan ilmunya, berjihad, sabar, dan sampai ke tujuan, yaitu mardhatillah".
Karakteristik mukmin sejati, utuh dan total. Seluruh jiwa raganya, hasrat, dan kecenderungannya berada dalam lingkaran penyerahan (taslim) kepada Allah. Hanya kepada Allah dan Rasul-Nya saja. Dia tidak akan pernah dengan rela hati menyerahkan ketaatannya kepada selain Allah, walaupun yang selain-Nya itu adalah seseorang yang bergelar raja diraja atau Yang Dipertuan Agung. Itulah wujud ketundukannya kepada perintah Allah di dalam Al Qur'an :
"Dan tidaklah diperintahkan kepadamu kecuali untuk beribadah (memurnikan ketaatan) kepada Allah dengan ikhlas, mendirikan shalat dan membayar zakat. Demikian itulah agama yang lurus". (QS. Al Bayyinah 98:5)
(Sumber : 10 Musuh Cita-Cita, Irfan S. Awwas)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar