![]() |
Image Source: Pinterest |
IMAN adalah sumber kekuatan. Seseorang yang beriman tidak bersandar kepada siapa pun kecuali Tuhannya. Kekuatan itu tak berasal dari mana pun selain dari-Nya. Manakala seorang manusia bertawakal kepada Allah, maka cukup Dia yang menjadi wakilnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun menerangkan,
“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” (al-Thalaq: 3).
Allah pula penolongnya, dan dia tidak akan dikalahkan oleh seorang pun.
“Jika Allah menolong kalian, maka kalian tak terkalahkan, dan tak terhina. Siapa lagi yang menolong kalian setelah Dia? Dan hanya kepada Allah orang-orang beriman bertawakal.” (Ali Imran: 160).
Seorang peneliti yang mengamati kesatuan dan kebersamaan umat Islam, niscaya akan melihat betapa kekuatan kepribadian mereka sangat kokoh, sampai segala bentuk kebatilan tak kuasa melumpuhkannya. Ada seorang pemberani yang dapat dijadikan contoh, yaitu Rub’i bin ‘Amir, utusan Sa’ad bin Abi Waqash dalam perang Qadisiah. Dengan kekuatan imannya, ia begitu berani menemui panglima perang Persia, Rustam, yang disegani banyak orang. Namun Rub’i tak takut sedikit pun, sampai ia ditanyai Rustam, “Siapa kamu? Dan siapa kalian?”
Jawabnya, “Kami adalah suatu kelompok yang diutus Allah untuk menghentikan siapa pun yang menyembah manusia agar ia menyembah Allah semata; mengubah kehidupan dunia yang sempit menjadi lapang leluasa serta mengganti agama-agama yang penuh aniaya dengan agama Islam yang berkeadilan.”
Kekuatan iman akan mempunyai makna sempurna manakala seorang Muslim telah mampu mencintai Allah serta Rasul-Nya; kemudian kecintaan tersebut meluas kepada selain keduanya. Berdasarkan iman, ia mempunyai hubungan kemanusiaan yang baik, sesuai dengan cara-cara yang diajarkan agamanya. Dengan demikian, maka ia telah mencapai tingkatan iman yang kuat. Ia telah bisa merasakan manisnya iman yang menyinari jalan kehidupannya.
Segala sesuatu di dunia ini tidak bisa dibandingkan dengan iman. Iman lebih tinggi, dan apa pun selainnya lebih rendah. Sebuah hadist Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan Anas menjelaskan,
“Ada tiga perkara di mana barangsiapa memiliki ketiganya maka ia akan dapat merasakan manisnya iman. Yaitu hendaklah ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada selain keduanya; hendaklah ia mencintai seseorang, tidak lain hanya semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia tak suka dilemparkan ke neraka.” (Muslim)
Sebagai contoh, kekuatan iman itu mempunyai pengaruh begitu besar terhadap orang-orang salaf, karena mereka senantiasa menjaga hubungan dengan Allah serta berpegang teguh kepada akidah. Bilal, misalnya, adalah orang yang pernah merasakan kepedihan berbagai siksaan karena tak mau meninggalkan akidah dan imannya.
Pribadinya teguh, imannya kuat, sehingga ia tetap bertahan dalam akidahnya, kendati siksaan amat mengerikan dirasakan sekujur tubuhnya. Semakin besar rasa sakit dan pedih menimpa tubuhnya, iman dan ketetapan hatinya bertambah kuat. Ia tetap tak mau menyerah kepada orang-orang yang menyekutukan-Nya. Mulutnya tetap mengatakan, dari hatinya terdalam, “Ahad….! Ahad!”
Selain mengutamakan kebersihan kepribadian, kesucian ruh, serta iman yang kuat, Islam pun mengutamakan kekuatan fisik. Kemudian, Islam mengajarkan kebersihan, kesucian, baik pada pakaian, tubuh serta tempat btinggal. Allah menyatakan,
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat, dan mereka yang suci.” (al-Baqarah: 222).
Kemudian, rezeki yang didapatkan dengan cara yang sah, dihalalkan-Nya, agar digunakan sebaik mungkin untuk kemaslahatan manusia, sehingga fisik mereka menjadi kuat. Allah menjelaskan,
“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah oleh kalian makanan-makanan yang baik dari yang telah Kami rezekikan kepada kalian.” (al-Baqarah: 172).
Selain itu, Islam pun menganjurkan olahraga, serta belajar memanah. Dalam sebuah hadist disebutkan, “Barangsiapa meninggalkan memanah setelah mengetahuinya karena tak suka, maka hal itu adalah nikmat yang ditinggalkannya.” Atau beliau bersabda, “yang dikufurinya.” (Abu Dawud)
Salmah bin al-Akwa’ menyatakan: Nabi pernah melewati suatu kelompok orang yang pandai memanah. Maka beliau mengatakan,
“Panahlah hai Bani Isma’il, karena sesungguhnya leluhur kalian adalah pemanah ulung. Panahlah, dan aku bersama Bani Fulan.” Kemudian salah satu dari kedua kelompok menahan tangan mereka. Rasulullah mengatakan kepada mereka, ‘Kenapa kalian tidak memanah?’ Mereka menyahut, ‘Bagaimana mungkin kami memanah sementara engkau bersama mereka?’ Sahut Nabi kemudian, ‘Panahlah! Aku bersama kalian semua!” (Bukhari)
Beliau bersabda berkait dengan firman Allah, “Dan hadapilah mereka dengan segenap kemampuan dan kekuatan kalian.” (Al-Anfal: 60).
“Sesungguhnya kekuatan itu dengan memanah.” (Ahmad)
Dalam bentuk serta jenis apa pun, kekuatan pribadi itu harus bersumber dari akidah yang benar, keberadaannya untuk mencari keridhaan Allah. Itulah kekuatan dalam agama, bersumber dari dasar-dasar cahaya ilmu, nurani serta petunjuk. Bertolak dari situ, Al-Qur’an mengisyaratkan adanya kekuatan tersebut pada para nabi, yaitu,
“Dan ingatlah hamba Kami, Daud, yang mempunyai kekuatan dan banyak bertobat.” (Shad: 17)
Firman Allah, al-ayyad, maksudnya adalah ‘mempunyai kekuatan’. Dalam firman lain, Allah menyatakan,
“Dan ingatlah hamba Kami, Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub, yang lebih dulu mempunyai kekuatan serta pengetahuan agama.” (Shad: 45)
Kekuatan di sini maknanya adalah kekuatan untuk taat serta peka dalam beragama. Betapa banyak kezaliman manusia pada pribadi yang islami, manakala mereka hanya menonjolkan ciri kekuatan semata. Di antara mereka ada yang membatasi kekuatan pribadi itu, sehingga ada yang berlaku keras terhadap saudara-saudara sendiri dan orang-orang yang lemah, daripada terhadap musuh.
Karena itulah, Al-Qur’an mengetengahkan konsep ‘kekuatan dan kasih sayang.’ Yaitu, “Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersamanya berlaku keras terhadap orang-orang kafir, namun penuh kasih sayang terhadap sesama mereka.” (al-Fath: 29).
Karena itulah, Al-Qur’an mengetengahkan konsep ‘kekuatan dan kasih sayang.’ Yaitu, “Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersamanya berlaku keras terhadap orang-orang kafir, namun penuh kasih sayang terhadap sesama mereka.” (al-Fath: 29).
Seorang Abu Bakar ash-Shidiq, semoga Allah meridhainya, sejak awal kekhilafahan, telah menyadari dasar-dasar kepribadian tersebut, sampai dia ucapkan, “Kekuatan pada kalian adalah kelemahan bagiku, sampai kebenaran terambil darinya. Dan kelemahan pada kalian adalah kekuatan bagiku, sampai kebenaran hilang darinya.”*/DR. Ahmad Umar Hasyim, dari bukunya Menjadi Muslim Kaffah
Sumber: hidayatullah(dot)com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar