Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
AKU termangu di tengah terik yang menyengat, seterik persaudaraan kita yang sedang dicabik-cabik. Hatiku menggigil mengingat Al-Qur’an surat Ali Imran yang setiap Jum’at dibacakan ayatnya. Sungguh, tidaklah perintah itu akan tertunaikan dengan sempurna, kecuali dengan mengingat ayat yang mengikutinya.
Mari sejenak kita sirami hati kita yang mendidih dengan ayat Allah ‘Azza wa Jalla:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali mati melainkan kamu dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran, 3: 102).
Apa pesan Allah Ta’ala di sini? Di ujungnya adalah pesan yang sangat kuat: “janganlah sekali-kali mati melainkan kamu dalam keadaan beragama Islam”; menjadi muslim yang sungguh-sungguh muslim, menjadi orang beriman yang benar-benar mengimani Allah dan rasul-Nya beserta segala yang diperintahkan-Nya untuk kita imani.
Bukalah hati nuranimu, tengoklah bahwa yang harus engkau perjuangkan bukan hanya bagaimana caranya agar dirimu secara pribadi yang mati dalam keadaan Islam, tetapi semua yang hari ini masih memiliki iman walau hanya setipis hembusan angin di pagi hari termasuk dalam cakupan إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (kecuali kamu sekalian dalam keadaan sebagai muslim).
Masih adakah airmata yang tersisa? Gunakanlah ia untuk menangisi ummat ini, yang di negeri kita semakin hari semakin tergerus prosentasenya. Ini menandakan semakin banyaknya orang-orang yang berkemungkinan mati dalam keadaan keluar dari Islam. Padahal bukankah kita semua dituntut untuk menjaga diri kita beserta keluarga kita dari siksa api Neraka?
Masih adakah airmata yang menggenang di pelupuk mata? Gunakanlah ia untuk menangisi pertikaian demi pertikaian. Padahal tidaklah mungkin kita menjaga ummat ini agar bergerak menjadi kekuatan yang jiwanya adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهَ dan ujungnya adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهَ, kecuali dengan mengikuti perintah Allah Ta’ala yang mengikuti perintah-Nya agar tidak mati, kecuali dalam keadaan sebagai muslim.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpegang-teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran, 3: 103).
Sumber
Dikutip dari FB: Mohammad Fauzil Adhim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar