Jumat, 06 April 2018

TUGAS, FUNGSI, DAN PERAN MANUSIA

Image Source : Linedeco
Karena kita telah menerima dan meyakini sebagai hamba Alloh yang berkewajiban ibadah, maka Alloh memberikan tuntunan bagaimana cara merealisasikannya dengan benar sesuai kehendak-Nya.


Manusia adalah Hamba Alloh yang wajib beribadah

Ibadah adalah kewajiban makhluk kepada Sang Kholiq. Ini adalah jalan satu-satunya menggapai ridho-Nya sekaligus untuk membuktikan status sebagai hamba. Dan hanya karena inilah, kita dihidupkan Alloh. Dalam artian kita harus menjadikan seluruh aktivitas hidup kita semata-mata hanya untuk beribadah kepada-Nya. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat, 51 ayat 56.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Ibadah dalam artian kita hanya menyembah Alloh dengan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun (tidak syirik) dan membuktikannya dengan taat menjalankan ajaran agama (diin) Islam sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an surat Al-Bayinah (98) ayat 5 :

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus“.

Dengan pelaksanaan ibadah tersebut, Alloh menghendaki agar kita menjadi manusia yang paling mulia disisi-Nya (muttaqin). Artinya pelaksanaan ibadah akan membina manusia menjadi manusia yang dapat memelihara dirinya dengan ajaran Islam (paling baik akhlaknya) sebagai bekal mencapai mardhotillah sejati dan  wujud pertanggungjawaban kita kelak di Yaumil Qiyamah. Hal sebagaimana diisyaratkan dalam Surat Al-Baqoroh ayat 21, Al-Fatihah ayat 4 dan Al-Hasyr (39) ayat 18:

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu,

agar kamu bertakwa”.

“Yang menguasai di hari Pembalasan

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.


Makna dan Ruang lingkup Ibadah

Karena seperti yang kita ketahui bahwa setiap aktivitas kita akan dimintai pertanggungjawaban, maka sudah selayaknya, kita memaksimalkan seluruh potensi (akal, jasad, dan jiwa) serta meniatkan dan setiap aktivitas hidup kita semata-mata dalam rangka ibadah kepada Alloh. Dengan demikian, ibadah itu bukan hanya ritual dalam artian sholat wajib, zakat, shodaqoh, infaq, shaum, baca qur’an, sholawat, haji, dan sebagainya. Ibadah itu melingkupi seluruh aspek hidup dan kehidupan kita, baik sebagai individu maupun dalam hal bermasyarakat.

Sholat wajib yang sehari semalam saja (jika ditotalkan) tak lebih hanya memakan waktu 1 jam itu akan dimintai pertanggungjawaban, bagaimana halnya dengan sekolah yang menghabiskan waktu 4-6 jam; belum lagi kerja yang memerlukan waktu paling kurang 8 jam atau kuliah yang rata-rata bisa menghabiskan waktu 6-10 jam. Bayangkan bila kelak amalan yang bisa kita pertanggungjawabkan (itu pun kalau nilainya bagus) itu hanya sholat; bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan amalan-amalan yang jauh lebih menghabiskan waktu, energi, dan pikiran selain sholat tersebut.

Itulah sebabnya dalam sholat, kita diingatkan kembali akan ikrar ibadah kita kepada Alloh. Bahwa, ”inna sholaatii, wa nushuqii wa mahyayaa, wa mamaati lillaah… (sholatku, aktivitas di luar sholatku, kehidupanku, dan kematianku semata-mata hanya untuk mengabdi kepada Alloh).

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” 
(Lihat surat Al-An’am ayat 162-163)


Realisasi Ibadah

Sebagaimana di awal telah diterangkan bahwa ibadah itu perintah Alloh kepada kita yang mana dasar (ikhlas lillahita’ala) dan tujuannya harus benar sesuai kehendak Alloh sebagai Al-Ma’bud, yaitu semata-mata hanya mengharapkan Mardhotillah, maka hal itu hanya bisa terbukti benar bila cara atau pelaksanaannya pun benar.  Kita tidak bisa mengada-ada (bid’ah) atau berinisiatif.

Ibadah hanya benar bila sesuai dengan pedoman pelaksanaan yang benar, yakni Al-Qur’an. Dalam hal ini Alloh mensyariatkan pelaksanaan ibadah sebagaimana tertulis dalam surat An-Nisaa’ ayat 59 :

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (alim ulama) di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya / hadits sohih), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya

Cara atau pelaksanaan ibadah yang disyariatkan Alloh adalah dengan taat kepada Alloh dan Rosul-Nya serta Ulil Amri dalam artian menjalankan Al-Qur’an dan As-Sunnah (Hadits Sohih) sebagai aturan hidup yang mana pada prakteknya adalah dengan mengikuti bimbingan dari para ‘Alim Ulama warotsatul anbiya’ yang kompeten dalam bidangnya. Atau dengan kata lain para ulama atau Ustadz yang sungguh-sungguh bertanggungjawab meneruskan tugas Nabi Muhammad saw dalam membimbing kita (umat islam) dalam menjalankan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai petunjuk hidup ibadah kepada Alloh.

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

(Lihat juga surat Al-Kahfi,18 ayat 110)

Dengan demikian, dalam pelaksanaannya, ibadah akan melahirkan struktur kepemimpinan ibadah; dimana ada yang berperan sebagai pembimbing dan yang dibimbing seperti halnya pada masa Rosul saw. Umat Islam dibimbing pelaksanaan ibadahnya oleh beliau. Nah, kira-kira, butuhkah kita pembimbing untuk melaksanakan tugas penghambaan kita kepada Alloh sekaligus agar kita tetap terpelihara di jalan yang lurus (Islam) dan tidak terjerumus pada kesesatan atau yang dimurkai Alloh? Alhamdulillah, mudah-mudahan kita mendapat bimbingan agar senantiasa istiqomah berada di jalan yang lurus ini. Amiin.

Dalam pelaksanaan tugasnya sebagai hamba Alloh tsb akan melahirkan : fungsi & peranan yg pelaksanaannya tetap bermuara pada 1 hal, pengabdian/ketaatan/ ketundukpatuhan kepada Alloh.


Fungsi kekhalifahan manusia.

‘Abid atau hamba adalah jabatan tertinggi yang disematkan Alloh Sang Raja langit & bumi kepada manusia. Jabatan hamba disini bisa juga bermakna pembantu, ajudan, mandataris atau dengan kata lain wakil.  Dengan demikian, sebagai hamba Alloh, manusia berkewajiban mewakili “keberadaan” Alloh di muka bumi. Jabatan ini dalam Al-Qur’an dikenal dengan Kholifatulloh fil ardhi (wakil Alloh di muka bumi). Coba kita lihat dalam surat Al-Baqoroh ayat 30 dan Shod, 38 ayat 26 :

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:

“Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi,

Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.

Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan“.

Sadar atau tidak sadar, pengangkatan manusia sebagai Kholifah Alloh di bumi ini bersifat mutlak dan melekat pada diri manusia sejak diciptakan. Artinya manusia lah satu-satunya makhluk yang memiliki potensi dan dimampukan oleh Alloh untuk mewakili-Nya sebagai pemimpin di muka bumi ini yang berlaku kepada setiap manusia di bumi ini.


Peran pengemban amanah Allah.

Dalam rangka terpenuhinya tanggungjawab sebagai kholifah, manusia diberikan amanah. Peran manusia adalah sebagai pengemban amanah dari Alloh yaitu mengelola atau memaksimalkan sumber daya yang tersedia di alam untuk kepentingan penghambaan seluruh manusia kepada Alloh serta aqimuddiin (menegakkan diinulloh, agama Islam) dalam setiap individu manusia dan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga keadilan Alloh di muka bumi dapat terwujud. Atau dengan kata lain, kholifah berkewajiban mengajak manusia agar tunduk patuh (beribadah) kepada Alloh, sehingga dengannya terwujudlah sebuah kehidupan masyarakat yang adil dan makmur di muka bumi sebagaimana telah dinyatakan oleh kekholifahan terdahulu (generasi awal).  Hal ini ditegaskan dalam surat Al-A’rof ayat 172, Al-Ahzab ayat 72, Shod (38) ayat 26 dan Az-Zukhruf (42) ayat 13 :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.

Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh“.

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)“.

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi“.


Metode Menjalankan Amanah

Dan agar pemenuhan kewajiban ini, maka setiap hamba Alloh harus berhijrah; yaitu  tidak mencampuradukan yang haq dan yang bathil. Artinya, kita harus memastikan ibadah kita kepada Alloh murni atau dengan sebaik-baiknya tanpa tercampur dengan kesyirikan. Hal ini ditegaskan dalam surat Al-Anfaal ayat 72.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada Perjanjian antara kamu dengan mereka. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan“.


Kesimpulan :

Manusia adalah hamba Alloh yang wajib mengabdikan seluruh hidupnya kepada Alloh Subhanahu wata’ala dengan bukti memenuhi tugas, fungsi, dan perannya dengan sebenar-benarnya (secara sempurna) yang dengannya tegaklah agama (diin) islam di dalam dirinya dan lingkungan masyarakat.  Dalam artian, secara individu kita menjadi manusia yang paling bertaqwa dan secara sosial terbinanya sebuah tatanan masyarakat yang adil makmur dibawah naungan Ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala.


Sumber : 
https://bahteranusa.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nabi Yahya, Pemuda yang Dirindu Sejarah

"wa salaamun ‘alayhi yawma wulida wa yawma yamuut wa yawma yub’atsuun," Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahi...